Bale Jogja, 18 Oktober 2007.
Tikus merupakan hewan pengganggu yang banyak dikeluhkan penghuni rumah. Tidak cuma karena sering menimbulkan suara gaduh, hewan ini dianggap menjadi sumber penyakit.
Hampir semua spesies tikus suka masuk ke rumah untuk membangun sarang atau mencuri makanan. Sebaliknya, kehadiran tikus membuat penghuni rumah tidak nyaman.
Kalau rumah sudah dimasuki tikus, pasti penghuninya merasa sebal bukan main. Pintu, kabel dan perabotan rumah rusak digigit.Bermacam cara mangusir tikus dicoba, mulai dari menggunakan lem tikus sampai membuat perangkap.
Cara itu sesaat berhasil, namun tidak lama kemudian, tikus "menyerang" lagi. Racun tikus memang efektif.
Namun pengalaman membuktikan, sangat merepotkan. Sehabis memakan racun di rumah kita, tikus matinya di mana-mana. Sulit mencarinya. Ketahuannya kalau sudah membusuk, dan baunya tidak enak.
Kebersihan Lingkungan
Tikus memang ada di mana-mana, khususnya di lingkungan rumah yang tidak beres dan cukup ideal bagi tikus untuk menetap, berpacaran, dan beranak pinak. Untuk menumpas semua tikus yang ada, menurut pengalaman, itu mustahil! Apalagi kalau rumah itu memang ideal bagi tikus. Yang dapat dilakukan ialah mengendalikan jumlahnya sampai tingkat populasi tertentu yang tidak mengganggu.
Pengendalian bisa dilakukan terpadu, secara biologis dengan memelihara kucing, kimia dengan racun tikus, fisik dengan memasang perangkap dan sanitasi menjaga kebersihan lingkungan.
Memelihara kucing tidak sepenuhnya mengatasi persoalan. Adakalanya kucingnya melempem, tidak mau menyerang tikus karena mungkin sudah kenyang ketika berpapasan dengan tikus. Kehadirannya dalam rumah dan pekarangan bisa dimanfaatkan untuk membuat tikus-tikus baru yang ingin menambah populasi yang ada tidak jadi mendekat.
Kunci dari upaya agar tikus enggan bersarang di rumah kita ternyata menjaga kebersihan lingkungan. Berbagai upaya membasmi tikus tetap akan tidak efektif kalau kebersihan lingkungan sekitar rumah tidak dijaga terus-menerus. Karena itu, sekali lagi, kunci dari permasalahan ini adalah kebersihan lingkungan.
Sampah yang ditumpuk sembarangan sangat disukai oleh tikus. Sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah, dan tidak dibiarkan mampir dulu di emperan, atau teritis rumah.
Setiap hari, banyak sampah "diproduksi" rumah tangga. Maka ada baiknya seluruh anggota keluarga diajak membuang sampah secara selektif. Sampah bisa dipilah menjadi sampah organik yang membusuk, seperti makanan, sayuran, serta buah-buahan, dan sampah anorganik yang tidak membusuk, seperti botol, kertas, kardus, ember, dan kaleng. Siapkan kantong plastik bekas belanjaan berukuran sedang atau besar di atas tempat sampah yang diperuntukkan bagi sampah organik. Jika sudah penuh, kantong diikat agar bau busuk sampah tidak menguap ke dalam rumah dan buang sesegera mungkin sebelum mengundang kedatangan tikus.
Kalau ada sisa barang yang diperkirakan masih dibutuhkan, misalnya kertas bon atau kuitansi untuk barang bukti penggantian suku cadang atau arsip dokumen lainnya, sebaiknya disediakan tempat khusus yang bebas tikus. Tong plastik sampah harus bertutup rapat. Tempat sampah yang sudah lama dan rusak, harus diganti dengan yang baru.
Usaha sanitasi lingkungan mencegah tikus masuk rumah tidak melulu soal sampah, penyimpanan makanan yang tidak beres juga akan mengundang kehadiran tikus. Makanan mutlak perlu disimpan dalam lemari, dan tidak dibiarkan di atas meja. Lemari makan ini (kalau belum disempurnakan) harus dibuat antitikus, dengan pintu yang bisa ditutup rapat, tapi lubang udaranya ditutup dengan anyaman kawat tahan karat. Sampah dan sisa makanan merupakan benda-benda yang menarik mendatangkan tikus.
Barang-barang bekas yang ditumpuk di belakang garasi juga perlu dibenahi, jangan sampai letaknya berantakan sampai dapat dijadikan sarang tikus. Tikus juga senang membuat sarang di ruangan antara lemari dan dinding. Lebih-lebih kalau lemari itu model sekarang, yang tidak berkaki tapi ditutup kayu sampai ke lantai, lalu ditempatkan di pojok ruangan.
Lemari sebaiknya ditempatkan di tengah bidang dinding, bukannya di sudut. Harus ada jarak tertentu yang cukup lebar antara lemari dan dinding supaya mudah menyapu setiap kotoran dan sisa bahan pembuat sarang tikus. Lorong kecil ini perlu diberi kapur barus.
Lemari yang jarang dibuka, sebaiknya juga diinspeksi secara berkala, lebih baik dengan memberi kapur barus, minimal sebulan sekali. Baunya yang menyengat tidak disukai oleh tikus. Sehat itu mahal harganya. Hidup sehat dapat dimulai dari rumah yang sehat. Rumah sehat, rumah bebas tikus!
(Sumber : Red. harian-global.com dari berbagai sumber)
tips yang sangat bermanfaat..
BalasHapus